Selasa, 23 Maret 2010

Malam ku

Malam Ku



Jika malam hanya berkata aku
Apalah diriku yang tak berdaya
Kecil dibanding lainnya
Tergeletak pada takdir yang mengikat

Sungguh malam menyudutkan ku
Tiada dirimu malam pun leluasa menyepikan ku
Menelantarkanku pada sudutnya
Hingga ku tak mampu hadirkan cahaya hadirmu

Sungguhkah kau merasa sama?
Dikala tidur mu menjadi pelepas waktu
Tiada diriku di samping mu
Apa yang kau kata?

Malam ku ini, tak berbintang
Nyanyian burung hantu, melantunkan syair rindu
Tubuh ku hanya terlentang, menembus kenangan kita
Bila kau disana merasa sama
Jawablah salam "selamat malam"
Biar mimpi yang menggambarnya untuk mu

Ku tutup mata dengan bayang dirimu
Hingga waktu bergulir dan berlalu
Dimana mentari mengusir malam ku
Hadir kan dirimu pada cahyanya.

Banda Aceh, 23 Maret 2010
Pukul: 20:01
Muhammad Iqhrammullah

Syair Perahu

Syair Perahu


karya: Hamzah Fansuri

Perteguh jua alat perahumu
muaranya sempit tempatmu lalu
banyaklah di sana ikan hiu
menanti perahumu lalu dari situ

Muaranya dalam, ikan pun banyak
di sanalah perahu keram dan rusak
karangnya tajam seperti ombak
ke atas pasir kamu tersesak

Ketahu olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikan pun banyak datang menyerang
hendak membawa ke tengah sawah

Muaranya itu terlalu sempit
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba'id

Baiklah perahu engkau perteguh
Hasilkan pendapatan dengan tali sauh
anginnya keras ombaknya cabuh
pulaunya jauh tempa berlabuh.

diambil dari situs ini.

Penyair

Penyair



Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…


(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran

diambil dari situs ini.

AKU

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943
Chairil Anwar

CASABIANCA

CASABIANCA

by: Felicia Dorothea Hemans (1793-1835)


THE boy stood on the burning deck
Whence all but him had fled;
The flame that lit the battle's wreck
Shone round him o'er the dead.

Yet beautiful and bright he stood,
As born to rule the storm;
A creature of heroic blood,
A proud, though childlike form.

The flames rolled on -- he would not go
Without his father's word;
That father, faint in death below,
His voice no longer heard.

He called aloud -- "Say, father, say,
If yet my task is done?"
He knew not that the chieftain lay
Unconscious of his son.

"Speak, father!" once again he cried,
"If I may yet be gone!"
And but the booming shots replied,
And fast the flames rolled on.

Upon his brow he felt their breath,
And in his waving hair,
And looked from that lone post of death
In still, yet brave despair.

And shouted but once more aloud,
"My father! must I stay?"
While o'er him fast, through sail and shroud,
The wreathing fires made way.

They wrapt the ship in splendor wild,
They caught the flag on high,
And streamed above the gallant child,
Like banners in the sky.

There came a burst of thunder sound--
The boy -- oh! where was he?
Ask of the winds that far around
With fragments strewed the sea!--

With mast, and helm, and pennon fair
That well had borne their part--
But the noblest thing that perished there
Was that young, faithful heart


Situs asli puisi dapat dilihat disini



Keterangan:

"Casabianca" adalah karya puisi Mrs.Hemans yang sangat terkenal,
puisi yang dapat membuat orang yang membaca mengeluarkan air mata.
Puisi ini mengangkat kejadian nyata yang terjadi pada tahun 1798 pada era Pertempuran Sungai Nil dari Kapal Perancis L''Orient.
Casablanca (Giocante), bocah laki-laki berusia 12 tahun dari Louis de Casabianca, pimpinan dari kapal perang Perancis adalah anak yang patuh dan berani.
Dia menerima perintah dari ayahnya agar jangan meninggalkan posisinya di dek sampai ayahnya kembali.
Namun dalam pertempuran itu, ayahnya terluka dan terbunuh.
Kapal itupun terbakar, kobaran api merambat cepat ke segala penjuru kapal dan asapnya mengelilingi kapal seperti kabut gelap.
Casabianca memanggil-manggil ayahnya berulang kali, menanyakan apakah dia boleh meninggalkan posnya, tetapi perintah itu tidak pernah terdengar karena ayahnya telah meninggal.
Casabianca tetap bersikeras untuk tidak melanggar instruksi ayahnya, tetap berdiri di tempatnya, kobaran api pun terus menjadi besar dan mulai melahap kapal tersebut sampai pada akhirnya ledakan besar terjadi. Semua yang berada di kapal , tentara yang terluka semua musnah dalam ledakan tersebut.
Kapal besar yang berdiri gagah di tengah lautan sebelumnya, kini telah hancur lebur, sisanya tersebar di tengah lautan luas.

Keterangan diambil dari situs ini.