Rabu, 10 Oktober 2012

The Dash (an inspirational poems that affects millions)

The Dash 

by Linda Ellis copyright 1996


I read of a man who stood to speak
at the funeral of a friend.
He referred to the dates on her tombstone,
from the beginning…to the end.

Poetry

And it was at that age ... Poetry arrived
in search of me. I don't know, I don't know where
it came from, from winter or a river.
I don't know how or when,

KRAWANG-BEKASI


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

 puisi ini diambil dari situs ini

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO


Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

Puisi ini diambil dari situs ini

PADA SUATU HARI NANTI


pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(1967)

Sapardi Djoko Damono

Jika Tergantung Orang, Maka Aku Tiada

Layaknya langit terik,
kadang dia tidak diinginkan.
Layaknya seorang yang marah,
kadang dia tidak diinginkan
Seperti awan mendung,
kadang dia tidak disukai
Seperti air mata seseorang,
kadang dia tidak disukai
Namun,
kadang amarah seseorang begitu dinanti,
layaknya terik di musim hujan
Kadang orang haru ketika tangis tak terbendung,
layaknya saat kemarau,
orang-orang menanti mendung
Jika semua tergantung orang,
tiadalah kemarau yang terik,
hujan setelah mendung,
dan tiadalah aku.

Kamis, 20 Oktober 2011

Untuk Apa Percaya?

Jika percaya hanya sebuah kata
Maka dusta hatimu
Jika percaya hanya kata lalu
Maka tiada hidupmu

Jangan nista kan percaya
Jangan robek suara percaya
Jangan bunuh kehidupan percaya

Jika tampak antaranya sebuah perbedaan antara "hanya kata" dan "sebuah kepercayaan"
Tiadalah langkah yang berat
Karena percaya tidak memangku beban
Percaya membawa mu terbang ke tempat yang kita inginkan.

Jangan tanya kan Untuk Apa Percaya?
Jika sudah jelas bedanya
Tanyakan Untuk Apa Percaya?
Jika hati tertutup darinya