Kamis, 16 September 2010

Dimanakah Dirimu

Ingin kutahui

Dirimu yang sekarang

Mungkin telah banyak berubah

Dan suatu tanya menggelisahkan hatiku

Apakah kau masih mengingatku sebagai seorang kekasih?


Kini

Ku tak tahu

Apalah yang salah pada kita?

Kita berjalan seperti biasa . . . . . . .

Mungkin suatu hal terlupakan hingga menghilang


Ya sudah

Itu hanya kisah lama kau dan aku

Yang kita hadapi saat ini adalah cerita baru


Tetaplah tinggal dihatiku

Walau tadi kita berjumpa sepintas

Lebih baik kita pulang ke tempat masing-masing

Biarlah kita mengandaikan mimpi, hanya di alam lalu.


Banda Aceh

Muhammad Iqhrammullah

Minggu, 05 September 2010

Fajar Harapan "The Begining of Destiny"

Puisi merupakan gambaran kehidupan.
kadang ia begitu abstrak, hingga ia hanya dapat dimengerti oleh si penulis saja.
Namun saksikanlah suatu perjalanan.
Biarlah berlalu waktu dan makna.




Begitulah kami... Tanpa terencana, tanpa ada hal yang pasti.
Itu semua hanya terjadi... dan pasti berlalu.

Minggu, 18 Juli 2010

Puisi Persahabatan

Untaian katamu ternyata palsu
Janji indah telah kau ingkari
Untuk terus menjadi sahabatku

Tahukah kau sobat???
Bahwa segala luka yang menyobek hatimu
Dapat juga ku rasakan dan menusuk jiwaku
Bahwa darah yang menetes dari luka itu
Seiring air mata yang mengalir di pipiku

Sadarkah kau sobat???
Bahwa kepedihan yang selalu tampak di wajahmu
Adalah mimpi terburuk yang membebaniku
Bahwa sikap dinginmu untukku
Adalah pedang yang terus menghujam dadaku

Dulu secercah tawamu yang indah
Selalu menggelitik jiwaku untuk tersenyum
Tapi kini semua tlah berubah
Dan bukan lagi kebahagiaan
Yang mampu kau berikan padaku
Karena sahabat…
Kau khianati aku
k au cemari ikatan kita
Kau dengan mudah melepas jemariku
Padahal kau melihat aku
Rapuh tanpa kau di sampingku

Mengapa kau rusak hubungan ini???

Kawan…..
Engkau telah mengisi hari hari ku
Dengan canda tawamu
Nampak wajahmu ceria nan rupawan

kawan…...
begitu bertartinya kau dalam hidup ini serasa hampa jika kau tak disisi

Kumelangkah tanpamu disampingku
Serasa diruang tak berpenghuni
Walau kuberada dikeramaian
Rasa linglung jika kau tak menemani
Tak tahu berbuat apa
Tanpamu disisi

Kawan…....
Kaulah tempat curahanku
Tempat curahan dari segala gundahku
Kapanpun dimanapun bagaimanapun
Dalam keadaan apapun
kau….selalu ada untukku
Selalu ada disetiap kubutuh

Kawan…......
begitu besar jasamu
Kata terimakasih tak cukup membalas jasamu

Kawan….
Betapa besar jasamu
Tak dapat diungkap dengan kata
Andaikan air laut sebagai tinta
Bahkan seisi bumipun tak cukup sebagai tinta
Untuk menuliskan jasamu

Kawan….....
Kuingin selalu bersamamu
Rasa tak ingin kulalui waktu tanpamu

Sahabat terkadang bisa buat kita senang
Tapi sahabat juga bisa membuat kita terluka
Dikala engkau senang
Dikala engkau sedih

Sahabat…,
Kenapa engkau hadir dalam hdupku
Kenapa engkau membuatku menangis…?
Kenapa engkau tersenyum dalam tangisku?
Begitu mudahnya kau melupakan persahabatan kita…
Sia-sia kita bina persahabatankita ini
Selamat tinggal sahabat sejatiku…

Persahabatan tak butuh keajaiban,,
Yang ada hanya sebuah kebersamaan
Untuk selalu terus berjalan

Persahabatan bukan permainan
Bukan pula sebuah ujian
Juga bukan sebuah hayalan
Persahabatan adalah jembatan
Untuk mencapai sebuah tujuan

Persahabatan selalu berharap
Semua teman memperoleh kebahagian
Persahabatan adalah sebuah perwujudan
Kasih sayang yang terlewatkan
Cinta yang tak terungkapkan

Persahabatan. . .
Selalu berbuah kebahagiaan
Karena persahabatan takkan hilang termakan zaman

Kau adalah sahabatku teman pelipur laraku
Bersamamu aku bisa ber bagi cerita indah
Cerita tentang kegagalanku
Dan dengan mu pula aku bisa tuangkan segala keluh kesahku

Sahabat…
Saat kau sedih aku menangis
Saat kau terluka hatiku tercabik
Saat kau gundah aku selalu resah

Sahabat. . .
Jangan kau anggap aku orang lain
Aku adalah dirimu
Aku adalah saudaramu
Aku siap korban kan jiwaku agar kekal persahabatan kita

Teman itu seperti bintang
Tak selalu nampak
Tapi selalu ada dihati…

Sahabat akan selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauh
Karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata
Saat tangan terluka, mata menangis
Saat mata menangis, tangan menghapusnya

Kuatkah aku menjalani ini.?
Kebersamaan kita memang indah
Bahkan terasa sangat manis


Kau teman berbagiku
Kau tempat ku curahkan resah dan gelisahku
Bercanda dan tertawa bersama
Menghangatkan tubuh dan jiwaku

Tapi. . .
Dalam tawa itu aku menjerit
Dalam kehangatan dekapanmu aku menggigil

Kau teman terbaikku
Tapi bukan pemilik cintaku

Kamis, 27 Mei 2010

Lullaby Kecewa

Kini jalan menyambutku sedih
Karena ia menutup dirinya untuk seorang
Bukan salah dari satunya
Karena nasib mengutus harus

Biar selamat jalan diucapkan
Namun tak berarti sekedar ucap
Masih pilu memukul
Iris masa depan ku kembali pada lalu

Kata orang "untuk apa dipikirkan"
Kata hati "bagaimana cara melupakannya"
Gelap kini teman penjaga sedih tangis
Lolongan anjing adalah tempat curhat rengekan manja
Manja? iya, memang manja.

Ku ingat kisah lampu dan cahaya
Bukankah indahnya pada cahaya?
Biarkan lampu keruh berdebu

Semua telah berlalu
Tinggal kerja keras maju
lebih....letih....ditemani risau kecewa

Biarlah.....
Toh perahu busuk ini akan membawaku
ke tempat tujuan akhirku,
tempat yang ku panggil cita-cita.

Banda Aceh, 27 Mei 2010
Pukul:20:32
Muhammad Iqhrammullah

Puisi BJ Habibie untuk almarhum istrinya

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

sumber : http://katabijak.wordpress.com

Selasa, 23 Maret 2010

Malam ku

Malam Ku



Jika malam hanya berkata aku
Apalah diriku yang tak berdaya
Kecil dibanding lainnya
Tergeletak pada takdir yang mengikat

Sungguh malam menyudutkan ku
Tiada dirimu malam pun leluasa menyepikan ku
Menelantarkanku pada sudutnya
Hingga ku tak mampu hadirkan cahaya hadirmu

Sungguhkah kau merasa sama?
Dikala tidur mu menjadi pelepas waktu
Tiada diriku di samping mu
Apa yang kau kata?

Malam ku ini, tak berbintang
Nyanyian burung hantu, melantunkan syair rindu
Tubuh ku hanya terlentang, menembus kenangan kita
Bila kau disana merasa sama
Jawablah salam "selamat malam"
Biar mimpi yang menggambarnya untuk mu

Ku tutup mata dengan bayang dirimu
Hingga waktu bergulir dan berlalu
Dimana mentari mengusir malam ku
Hadir kan dirimu pada cahyanya.

Banda Aceh, 23 Maret 2010
Pukul: 20:01
Muhammad Iqhrammullah

Syair Perahu

Syair Perahu


karya: Hamzah Fansuri

Perteguh jua alat perahumu
muaranya sempit tempatmu lalu
banyaklah di sana ikan hiu
menanti perahumu lalu dari situ

Muaranya dalam, ikan pun banyak
di sanalah perahu keram dan rusak
karangnya tajam seperti ombak
ke atas pasir kamu tersesak

Ketahu olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikan pun banyak datang menyerang
hendak membawa ke tengah sawah

Muaranya itu terlalu sempit
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba'id

Baiklah perahu engkau perteguh
Hasilkan pendapatan dengan tali sauh
anginnya keras ombaknya cabuh
pulaunya jauh tempa berlabuh.

diambil dari situs ini.

Penyair

Penyair



Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…


(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran

diambil dari situs ini.

AKU

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943
Chairil Anwar

CASABIANCA

CASABIANCA

by: Felicia Dorothea Hemans (1793-1835)


THE boy stood on the burning deck
Whence all but him had fled;
The flame that lit the battle's wreck
Shone round him o'er the dead.

Yet beautiful and bright he stood,
As born to rule the storm;
A creature of heroic blood,
A proud, though childlike form.

The flames rolled on -- he would not go
Without his father's word;
That father, faint in death below,
His voice no longer heard.

He called aloud -- "Say, father, say,
If yet my task is done?"
He knew not that the chieftain lay
Unconscious of his son.

"Speak, father!" once again he cried,
"If I may yet be gone!"
And but the booming shots replied,
And fast the flames rolled on.

Upon his brow he felt their breath,
And in his waving hair,
And looked from that lone post of death
In still, yet brave despair.

And shouted but once more aloud,
"My father! must I stay?"
While o'er him fast, through sail and shroud,
The wreathing fires made way.

They wrapt the ship in splendor wild,
They caught the flag on high,
And streamed above the gallant child,
Like banners in the sky.

There came a burst of thunder sound--
The boy -- oh! where was he?
Ask of the winds that far around
With fragments strewed the sea!--

With mast, and helm, and pennon fair
That well had borne their part--
But the noblest thing that perished there
Was that young, faithful heart


Situs asli puisi dapat dilihat disini



Keterangan:

"Casabianca" adalah karya puisi Mrs.Hemans yang sangat terkenal,
puisi yang dapat membuat orang yang membaca mengeluarkan air mata.
Puisi ini mengangkat kejadian nyata yang terjadi pada tahun 1798 pada era Pertempuran Sungai Nil dari Kapal Perancis L''Orient.
Casablanca (Giocante), bocah laki-laki berusia 12 tahun dari Louis de Casabianca, pimpinan dari kapal perang Perancis adalah anak yang patuh dan berani.
Dia menerima perintah dari ayahnya agar jangan meninggalkan posisinya di dek sampai ayahnya kembali.
Namun dalam pertempuran itu, ayahnya terluka dan terbunuh.
Kapal itupun terbakar, kobaran api merambat cepat ke segala penjuru kapal dan asapnya mengelilingi kapal seperti kabut gelap.
Casabianca memanggil-manggil ayahnya berulang kali, menanyakan apakah dia boleh meninggalkan posnya, tetapi perintah itu tidak pernah terdengar karena ayahnya telah meninggal.
Casabianca tetap bersikeras untuk tidak melanggar instruksi ayahnya, tetap berdiri di tempatnya, kobaran api pun terus menjadi besar dan mulai melahap kapal tersebut sampai pada akhirnya ledakan besar terjadi. Semua yang berada di kapal , tentara yang terluka semua musnah dalam ledakan tersebut.
Kapal besar yang berdiri gagah di tengah lautan sebelumnya, kini telah hancur lebur, sisanya tersebar di tengah lautan luas.

Keterangan diambil dari situs ini.